Ilmu adalah “Mengetahui sesuatu sesuai dengan apa adanya (yakni sesuai dengan yang sebenarnya) dengan pasti/yakin.”
Misalnya mengetahui bahwa keseluruhan itu lebih besar daripada sebagian, dan bahwa niat merupakan syarat dari ibadah.
Maka keluar dari perkataan kami : (ﺇﺩﺭﺍﻙ ﺍﻟﺸﻲﺀ) “mengetahui sesuatu” adalah tidak mengetahui sesuatu secara menyeluruh, dan dinamakan “kebodohan yang ringan” (ﺍﳉﻬﻞ ﺍﻟﺒﺴﻴﻂ), misalnya seseorang ditanya: “kapankah terjadinya perang Badar?” Lalu dia menjawab “saya tidak tahu.”
Dan keluar dari perkataan kami: (ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻫﻮ ﻋﻠﻴﻪ) “sesuai dengan yang sebenarnya” adalah mengetahui sesuatu dari segi yang menyelisihi keadaan yang sebenarnya dan dinamakan (ﺍﳉﻬﻞ ﺍﳌﺮﻛﺐ) “kebodohan yang bertingkat,” misalnya seseorang ditanya: “kapankah terjadinya perang badar?” Lalu dia menjawab: “pada tahun ketiga Hijriah.”
Hubungan tentang pengetahuan terhadap sesuatu itu adalah seperti berikut:
- Ilmu (ﻋﻠﻢ) : yaitu mengetahui sesuatu sesuai dengan yang sebenarnya dengan pasti (yakin).
- Jahil Basith ( ﺟﻬﻞ ﺑﺴﻴﻂ ): yaitu tidak mengetahui sesuatu secara menyeluruh (yakni mengetahui sesuatu secara sebagian saja, pent).
- Jahil Murokkab (ﺟﻬﻞ ﻣﺮﻛﺐ): yaitu mendapat pengetahuan tentang sesuatu dari segi yang menyelisihi apa yang sebenarnya.
- Dzonn (ﻇﻦ) : yaitu mendapat pengetahuan tentang sesuatu dengan kemungkinan adanya (pendapat) lainnya yang marjuh/lemah.
- Wahm (ﻭﻫﻢ) : yaitu mendapat pengetahuan tentang sesuatu dengan kemungkinan adanya (pendapat) lainnya yang rojih/kuat.
- Syakk (ﺷﻚ) : yaitu mendapat pengetahuan tentang sesuatu dengan kemungkinan adanya (pendapat) lainnya yang sama kuat.
Simak lebih lanjut di video berikut ini: