Di antara perisai bagi kita, selaras dengan bab yang kita bahas di sesi ke-3 ini, tentang al-mujahadah. Yaitu berjuang untuk melaksanakn kebaikan-kebaikan, jika tidak disibukkan dengan kebaikan-kebaikan, dengan amalan-amalan sunnah, bisa jadi disbukkan dengan amalan yang tidak berguna, jatuh kepada amalan-amalan yang menyelisihi dengans sunnah, tanpa disadari.
Di hadits ke-4 disebutkan: Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan shalat malam sampai kedua kakinya pecah-pecah, maka aku berkata kepadanya, ‘Kenapa engkau melakukan seperti ini, wahai Rasulullah? Padahal dosa-dosamu yang telah lalu dan akan datang telah diampuni.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur.’” (Muttafaqun ‘alaih). [HR. Bukhari, no. 4837 dan Muslim, no. 2820]
Hadits ini sebagai dalil di antara kita bersyukur adalah dengan menjalankan ketaatan kepada Allah subhanallahu wa ta’ala. Yang kedua, dalil bahwa Nabi telah mendapatkan ampunan dari dosa-dosanya yang telah lalul dan yang akan datang.
Hadits ini juga sebagai dalil tentang keutamaan qiyamul lail dan Allah telah memuji hamba-hambanNya yang mendirikan shalat malam, sebagai surah As-Sajadah ayat 16.
Simak kajian lebih lengkapnya di tautan berikut ini: